Makkah Al-Mukarramah, 17 Mei 2026 – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji, suasana spiritual semakin terasa di Kota Suci Makkah. Ribuan jamaah memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah sunah, mulai dari salat berjamaah di Masjidil Haram, qiyamul lail, hingga memperbanyak sedekah dan amal kebajikan.
Di tengah semangat beribadah tersebut, hadir sebuah program inspiratif dari Kloter JKG 7 yang diberi nama SAJADAH JKG 7. Program ini merupakan singkatan dari Sahabat Jamaah Lansia dan Risti Beribadah di Haram, sebuah gerakan sosial dan kemanusiaan yang bertujuan membantu jamaah lanjut usia serta jamaah risiko tinggi agar tetap dapat merasakan nikmatnya beribadah langsung di Masjidil Haram.
Program ini digagas oleh Ketua Bimbingan Ibadah Kloter JKG 7, KH. Purna, sebagai bentuk kepedulian terhadap jamaah lansia dan pengguna kursi roda yang mengalami keterbatasan fisik untuk menuju Masjidil Haram secara mandiri.

“Program ini hadir untuk mengobati kerinduan jamaah lansia yang ingin melihat Ka’bah secara langsung dan beribadah dengan aman serta nyaman,” ujar KH. Purna.
Pendampingan dilakukan secara rutin setiap hari dengan sistem dua gelombang agar kondisi fisik jamaah maupun petugas tetap terjaga. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Andhika Arie Prasetya yang turut mendampingi pelaksanaan program.
Shift pertama dilakukan menjelang Subuh dengan keberangkatan satu jam sebelum azan. Jamaah diajak menikmati suasana sejuk pagi hari di Masjidil Haram. Sementara shift kedua dilaksanakan menjelang Magrib untuk memberikan kesempatan jamaah menikmati suasana senja dan kekhusyukan ibadah di Tanah Haram.
Pemilihan waktu Subuh dan Magrib dilakukan karena kondisi cuaca relatif lebih bersahabat dan aman bagi jamaah lansia maupun pengguna kursi roda.
Mekanisme program pun dibuat sederhana tanpa birokrasi rumit. Petugas hanya mendata jamaah lansia dan pengguna kursi roda yang belum pernah ke Masjidil Haram atau yang kondisi fisiknya masih memungkinkan untuk didampingi.
Setelah pendataan dilakukan, jamaah diberangkatkan secara bergiliran dengan pendampingan melekat. Setiap satu hingga dua jamaah pengguna kursi roda didampingi seorang petugas sejak dari hotel, menaiki bus shalawat, hingga masuk ke area ibadah di Masjidil Haram.
Menariknya, seluruh layanan pendampingan tersebut diberikan secara gratis.
“Gratis,” jawab KH. Purna dan dr. Andhika serempak ketika ditanya mengenai biaya operasional program tersebut.
Salah satu jamaah yang merasakan manfaat program ini adalah Mat Bustan (92), jamaah tertua asal Lampung. Karena kondisi kesehatan dan ketergantungan penuh pada kursi roda, Mat Bustan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar hotel. Namun di balik keterbatasannya, tersimpan kerinduan mendalam untuk dapat melihat Ka’bah secara langsung sebelum kembali ke Tanah Air.
Kerinduan itu akhirnya terwujud melalui program SAJADAH.
Siti Aisyah, putri Mat Bustan, mengaku terharu melihat perubahan semangat ayahnya setelah pulang dari Masjidil Haram.
“Biasanya ayah hanya makan dua atau tiga sendok. Setelah dari Masjidil Haram beliau terlihat sangat bahagia, makan lahap, lalu langsung mandi dan salat. Semangatnya seperti tumbuh kembali,” ungkapnya penuh haru.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dr. Andhika dan Darmawan yang dengan penuh kesabaran mendorong kursi roda ayahnya hingga dapat beribadah dan melihat Ka’bah dari dekat.
Tidak hanya itu, semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan juga tampak dari hadirnya seorang dermawan yang memilih anonim namun membantu membiayai kebutuhan kursi roda jamaah untuk tawaf dan sa’i.
Salah satu penerima bantuan tersebut adalah Upik Lia (72). Ia mengaku sempat khawatir tidak mampu menjalankan rangkaian ibadah karena cedera kaki dan keterbatasan biaya.
“Alhamdulillah, saya terbantu oleh hamba Allah yang sangat baik. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat, kesehatan, dan keberkahan dunia akhirat,” tuturnya.
Program SAJADAH JKG 7 menjadi gambaran nyata bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual spiritual, tetapi juga tentang kepedulian, solidaritas, dan kemanusiaan. Di Tanah Suci, nilai kebersamaan tumbuh melalui bantuan tenaga, ilmu, harta, hingga senyum yang tulus kepada sesama.
Semangat fastabiqul khairat yang hadir dalam program ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat luas bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, dapat menjadi ladang amal dan jalan meraih ridha Ilahi.( Red/Laporan Agustobationo dari Makkah )











