DEMOKRASINEWS, Jakarta 01 Mei 2026 — Insiden mobil listrik yang mengalami gangguan saat melintasi perlintasan kereta api kembali menjadi sorotan publik. Namun, perhatian yang terfokus pada dugaan kelemahan teknologi kendaraan dinilai menyesatkan.
Pakar Kebijakan Publik, Bimo Andono, menyatakan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kendaraan listrik, melainkan pada kegagalan sistem transportasi nasional yang belum siap menghadapi transformasi mobilitas modern.
“Ini bukan soal mobil listrik tidak kompatibel dengan rel kereta. Ini adalah cerminan nyata dari sistem transportasi yang belum adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujar Bimo dalam keterangannya.
Menurutnya, secara teknis kendaraan listrik telah dilengkapi standar keamanan tinggi, termasuk perlindungan terhadap gangguan elektromagnetik. Karena itu, insiden kendaraan mogok di atas rel lebih relevan dilihat sebagai kombinasi persoalan infrastruktur, desain perlintasan, dan lemahnya sistem keselamatan.
Bimo menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang yang belum dilengkapi sistem pengamanan memadai. Sebagian bahkan masih bergantung pada mekanisme manual yang dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi transportasi saat ini.
“Kita berada di era kendaraan berbasis digital, tetapi masih menggunakan sistem perlintasan dengan standar keselamatan yang tertinggal. Ini menunjukkan kegagalan perencanaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, karakter kendaraan listrik yang mengandalkan sistem elektronik justru menuntut dukungan infrastruktur yang lebih presisi dan terintegrasi.
Lebih lanjut, Bimo menilai terdapat ketidaksinkronan dalam arah kebijakan nasional. Di satu sisi, pemerintah mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari transisi energi. Namun di sisi lain, kesiapan infrastruktur dinilai belum memadai.
“Kebijakan saat ini terlalu fokus pada teknologi, tetapi belum diimbangi kesiapan ekosistemnya. Ini berpotensi menimbulkan risiko baru,” ujarnya.
Sebagai solusi, Bimo mendorong langkah strategis pemerintah, antara lain penghapusan bertahap perlintasan sebidang di wilayah padat, penerapan standar keselamatan nasional yang adaptif, hingga pengembangan sistem deteksi kendaraan secara real-time di jalur rel.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi kebijakan lintas sektor antara transportasi darat dan perkeretaapian, serta penyusunan regulasi khusus terkait keselamatan kendaraan listrik.
“Keselamatan tidak boleh bersifat reaktif. Harus dirancang sejak awal sebagai sistem yang preventif,” katanya.
Bimo menilai insiden ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem transportasi nasional di tengah era elektrifikasi dan digitalisasi.
“Jangan jadikan teknologi sebagai kambing hitam. Yang perlu dibenahi adalah sistemnya,” pungkasnya. ( Red/Rls entertainmentredsky@gmail.com )










