DEMOKRASINEWS, Lampung Timur – Harapan baru mulai tumbuh di hamparan lahan yang selama ini terbengkalai di Kabupaten Lampung Timur. Di balik tanah-tanah yang dulu tak lagi produktif, kini tersimpan peluang besar untuk menjadi sumber pangan masa depan.
Komandan Kodim 0429/Lampung Timur, Danang Setiaji, turun langsung meninjau sejumlah lokasi yang direncanakan menjadi bagian dari program Cetak Sawah Rakyat (CSR), Rabu (8/4/2026). Dua kecamatan yang menjadi fokus peninjauan yakni Kecamatan Labuhan Maringgai dan Kecamatan Pasir Sakti.

Di Desa Karya Tani, Kecamatan Labuhan Maringgai, aktivitas para petani tampak mulai menggeliat. Lahan yang sebelumnya kurang produktif kini diusulkan menjadi area persawahan seluas 185 hektare oleh Gapoktan Tani Jaya. Bahkan, hasil survei menunjukkan potensi pengembangan mencapai 215 hektare.
Sementara itu, di Kecamatan Pasir Sakti, optimisme serupa juga terlihat. Di Desa Pasir Sakti, Gapoktan Sumber Rezeki mengusulkan lahan seluas 355 hektare yang seluruhnya dinilai layak berdasarkan hasil survei. Tak jauh dari sana, di Desa Purworejo, Gapoktan Tani Makmur mengajukan lahan lebih luas, yakni 427 hektare, meski hasil kajian teknis menetapkan 241 hektare sebagai area potensial.
Program Cetak Sawah Rakyat sendiri merupakan inisiatif strategis dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk mempercepat swasembada pangan nasional. Program ini berfokus pada pemanfaatan lahan tidur atau tidak produktif, termasuk tambak yang mulai ditinggalkan, menjadi sawah yang mampu menghasilkan panen secara berkelanjutan.

Dalam peninjauan tersebut, Dandim menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak awal. Ia mengingatkan para gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk aktif melakukan sosialisasi kepada warga.
“Mayoritas lahan ini sebelumnya merupakan tambak yang sudah tidak produktif. Maka, penting bagi masyarakat memahami tujuan dan manfaat program ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar program pertanian, CSR dinilai sebagai langkah strategis nasional yang membutuhkan dukungan semua pihak. Dandim pun menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga peran aktif masyarakat, penyuluh pertanian, hingga aparat di tingkat desa.
Program ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan target mencapai 250.000 hektare pada 2026, program ini diharapkan mampu meningkatkan luas tanam dan produktivitas pertanian secara signifikan.
Bagi masyarakat setempat, program ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan harapan baru. Harapan akan lahan yang kembali hidup, panen yang melimpah, dan masa depan yang lebih pasti.
Di tengah tantangan perubahan zaman dan kondisi lingkungan, langkah kecil dari desa-desa ini menjadi bagian penting dari upaya besar menjaga kedaulatan pangan Indonesia.(Red/Prie/Rls)











