DEMOKRASINEWS,Kepulauan Seribu – Dua titik penangkaran penyu di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua, menjadi pusat edukasi dan konservasi penting bagi penyelamatan penyu sisik serta penyu hijaudua spesies langka yang kini terancam punah.
Di Pulau Pramuka, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu menjadi motor utama kegiatan suaka penyu. Setiap telur penyu yang ditemukan diselamatkan, ditetaskan, dan tukiknya dirawat hingga cukup umur sebelum dilepas kembali ke laut. Proses panjang ini dilakukan dengan cermat agar tingkat kelangsungan hidup tukik meningkat di alam bebas.
Tak jauh dari sana, Pulau Kelapa Dua juga menjadi lokasi konservasi yang tak kalah menarik. Di tempat ini, pengunjung dapat melihat langsung penyu dewasa dan tukik yang dirawat, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan pelepasan tukik ke laut.

Selain menyaksikan proses konservasi, wisatawan mendapat edukasi mengenai ancaman terhadap populasi penyu serta pentingnya menjaga kebersihan laut dan terumbu karang sebagai habitat alami mereka.
Akses menuju kawasan konservasi di Pulau Kelapa Dua terbilang mudah. Wisatawan dapat menyeberang menggunakan kapal dari Pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara, atau melalui Pulau Pramuka yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu. Kedua pulau ini kini menjadi destinasi ekowisata unggulan yang menyatukan rekreasi dan edukasi lingkungan.
Lebih dari sekadar menjaga kelestarian satwa laut, kedua lokasi penangkaran tersebut juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Wartawan AJP 2025 Belajar Konservasi Penyu di Pulau Kelapa Dua
Suasana teduh Pulau Kelapa Dua pada Rabu (27/8/2025) menjadi saksi pelepasan tukik ke laut lepas. Sebanyak 27 awak media peserta Visit Media Ajang Jurnalis Pertamina (AJP) 2025 diajak PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatera (PHE OSES) mengunjungi penangkaran penyu sebagai bagian dari rangkaian kegiatan mereka.
Bagi para jurnalis, perjalanan ini bukan sekadar wisata alam. PHE OSES menegaskan, tujuan utama kunjungan adalah mengajak insan media untuk berperan sebagai agen edukasi publik dalam upaya pelestarian satwa laut.
“Melalui kunjungan ini kami berharap teman-teman wartawan dapat menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat luas,” ujar Indra Darmawan, Head of Communication, Relation & CID PHE OSES.
Kegiatan konservasi tidak berhenti di ruang edukasi. Para peserta juga berkesempatan berkontribusi langsung dengan melepaskan sedikitnya 10 ekor tukik penyu ke pantai. Aksi simbolis itu diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang para tukik untuk kembali ke laut dan suatu saat nanti bertelur di pantai yang sama.
“Penyu adalah bagian penting dari alam. Dengan melepas tukik hari ini, kami yakin suatu saat nanti mereka akan kembali dan menjadikan laut kita tetap hidup dan indah,” tambah Indra penuh optimisme.
Di penghujung kegiatan, PHE OSES juga mengimbau masyarakat Kepulauan Seribu agar terus menjaga kelestarian penyu. Kesadaran kolektif dinilai sebagai kunci utama agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan penyu berenang bebas di habitat aslinya.

Penyu dan Harapan dari Pesisir
Salah satu peserta Visit Media AJP 2025, Supriyono, jurnalis DemokrasiNews.co.id, membagikan kesannya selama mengikuti kegiatan di Kepulauan Seribu. Menurutnya, dampak jangka panjang program konservasi penyu tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut, tetapi juga masyarakat sekitar.
“Seiring meningkatnya kesadaran untuk menjaga penyu dan habitatnya, warga pesisir semakin terdorong untuk menjaga kebersihan pantai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan melindungi terumbu karang,” ujarnya.
Supriyono menilai, konservasi penyu juga membuka peluang ekonomi baru melalui ekowisata. Kehadiran wisatawan yang ingin menyaksikan pelepasan tukik atau belajar tentang konservasi memberikan manfaat ekonomi bagi warga, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap lingkungan mereka sendiri.
“Laut yang sehat dan ekosistem yang seimbang akan menjadi sumber kehidupan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Program seperti ini bukan hanya menanamkan kesadaran, tapi juga membangun warisan ekologis yang bernilai besar bagi manusia dan alam,” pungkasnya. (Red/Pri)











