DEMOKRASINEWS, Jombang Jawa Timur,29 Agustus 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pesantren. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, santri didorong tidak hanya menjadi pengguna, tetapi mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang baru.
Pesan tersebut disampaikan Muhaimin Iskandar dalam Pelatihan AI dan Ekonomi Digital yang digelar Forum Percepatan dan Transformasi Pesantren (FPTP) di MTsN 4 Jombang, Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyemarakkan Muktamar ke-35 NU.
“Santri jangan hanya jadi pengguna teknologi. Santri harus jadi pencipta peluang,” menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Menurut Muhaimin, perkembangan AI telah bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan. Teknologi tersebut kini mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara manusia belajar, bekerja, berdagang hingga membangun dan mengembangkan aktivitas ekonomi.
Karena itu, dunia pesantren dan NU dinilai tidak boleh terlambat dalam membaca perubahan tersebut.
“NU tidak boleh terlambat membacanya, bukan karena ingin ikut tren, tetapi karena tugas kita mengurus umat, dan umat sedang hidup di zaman itu,” ujarnya.
Momentum Muktamar ke-35 NU, menurut Muhaimin, semestinya tidak dimaknai sebatas forum untuk membahas organisasi dan kepengurusan. Lebih dari itu, muktamar dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membaca berbagai perubahan yang tengah terjadi di masyarakat.
Salah satunya adalah perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital dan AI.
“Muktamar bukan hanya ruang bersidang. Muktamar adalah ruang belajar. Dan hari ini ruang belajarnya bernama kecerdasan buatan,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya menjadikan transformasi digital sebagai bagian dari agenda penguatan sumber daya manusia pesantren.
Bagi dunia pesantren, penguasaan teknologi bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan yang selama ini menjadi fondasi utama. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen baru untuk memperluas manfaat ilmu, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang ekonomi bagi para santri.
Suasana pelatihan juga memperlihatkan antusiasme para santri dan santriwati dalam mengenal serta mencoba langsung teknologi AI. Mereka mengikuti materi dengan mencatat, bertanya, hingga mempraktikkan penggunaan teknologi tersebut.
Antusiasme itu menjadi gambaran bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk ikut memimpin transformasi digital.
Muhaimin menilai pesantren memiliki modal yang kuat untuk menghadapi perubahan zaman. Modal tersebut tidak hanya berupa tradisi keilmuan dan pendidikan agama, tetapi juga komunitas yang besar, kultur belajar yang kuat, serta generasi muda yang dapat dikembangkan menjadi sumber daya manusia unggul.
“Ilmu agama yang kokoh, ditambah kemampuan teknologi, itulah bekal santri menghadapi masa depan,” ujarnya.
Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa masa depan pesantren tidak harus berjarak dengan perkembangan teknologi. Justru dengan fondasi keagamaan yang kuat dan kemampuan digital yang memadai, santri dapat mengambil peran lebih besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Transformasi digital di lingkungan pesantren pada akhirnya bukan sekadar persoalan kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi berbasis AI.
Lebih jauh, teknologi diharapkan mampu melahirkan kreativitas dan kemandirian ekonomi.
Santri dapat didorong untuk melihat AI sebagai alat untuk menciptakan karya, mengembangkan usaha, membangun ekosistem ekonomi digital, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat mencetak generasi yang memahami ilmu agama, tetapi juga melahirkan generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menciptakan peluang.
Harapan itu menjadi semakin relevan ketika perubahan teknologi berlangsung semakin cepat dan menuntut setiap generasi untuk terus belajar.
Muhaimin berharap Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada agenda organisasi dan kepengurusan, tetapi mampu menghasilkan langkah-langkah nyata yang menjadikan NU tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Pelatihan AI dan Ekonomi Digital yang digelar FPTP menjadi salah satu contoh konkret bagaimana ruang-ruang pembelajaran dapat dihadirkan di tengah momentum besar Muktamar.
Dari pesantren, transformasi itu diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi berkembang menjadi kemampuan menciptakan inovasi, membuka peluang, dan memberi manfaat bagi umat.
Atas terselenggaranya kegiatan tersebut, apresiasi disampaikan kepada FPTP serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Pelatihan AI dan Ekonomi Digital di lingkungan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.( Red/Supriyono).











