DEMOKRASINEWS, Jakarta,17 Juni 2026 – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta, semangat pelestarian budaya lokal kembali mengemuka melalui penguatan warisan gastronomi Betawi. Berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, akademisi, budayawan, pelaku usaha kuliner, komunitas kreatif hingga pelaku UMKM, berkolaborasi membangun kembali kesadaran akan pentingnya menjaga identitas budaya Jakarta melalui tradisi Nyahi.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam seminar budaya dan gastronomi bertajuk “Nyahi, Warisan Rasa Betawi: Potensi Wisata Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Penguatan UMKM Jakarta” yang digelar di Ruang Seminar Elang Bondol, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus langkah strategis untuk menghidupkan kembali tradisi Nyahi, budaya minum teh khas Betawi yang selama berabad-abad menjadi simbol keramahan, penghormatan kepada tamu, serta perekat hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah transformasi Jakarta sebagai kota metropolitan dan pusat peradaban modern, Nyahi hadir bukan sekadar tradisi menikmati secangkir teh. Tradisi ini menyimpan jejak sejarah panjang interaksi berbagai etnis, jalur perdagangan, serta nilai gotong royong yang membentuk wajah Jakarta hingga hari ini.
Dari secangkir teh yang disajikan dengan penuh penghormatan, lahir ruang dialog, kebersamaan, dan pertukaran budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Betawi. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk memperkuat karakter Jakarta sebagai kota yang inklusif dan berakar pada warisan budayanya.
Kegiatan yang digagas DPD IKABOGA Provinsi DKI Jakarta bersama berbagai pemangku kepentingan ini menghadirkan budayawan Betawi, akademisi, perwakilan pemerintah daerah, pelaku industri kuliner, hotel dan restoran, komunitas kreatif, serta pelaku UMKM. Para narasumber membahas sejarah dan filosofi Nyahi, peluang pengembangannya sebagai destinasi wisata budaya, hingga potensinya sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Ketua Panitia, Indah Erniawati, S.E., mengatakan seminar tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis, kajian ilmiah, serta penguatan narasi budaya yang dapat menjadi landasan pengembangan Nyahi sebagai bagian penting dari identitas gastronomi Jakarta.
“Melalui seminar ini, kami ingin membangun pemahaman bersama bahwa Nyahi bukan hanya tradisi masa lalu, tetapi memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan UMKM Jakarta di masa depan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, sejumlah program pengembangan wisata gastronomi berbasis budaya Betawi tengah disiapkan melalui kolaborasi lintas sektor. Inisiatif tersebut akan bermuara pada penyelenggaraan Festival 499 Tahun Jakarta Rasa: Nyahi, Ruang Temu Peradaban dalam Rasa Betawi.
Festival ini dirancang sebagai perayaan budaya yang menghadirkan pengalaman autentik menikmati tradisi Nyahi bersama ragam kuliner khas Jakarta. Selain itu, masyarakat akan disuguhkan pertunjukan seni budaya Betawi, aktivasi UMKM, program edukasi budaya, hingga berbagai paket wisata gastronomi yang melibatkan komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah program “Nyahi on The Bus”, sebuah konsep wisata budaya tematik yang menggabungkan tradisi Nyahi, sajian kuliner khas Jakarta, serta kisah sejarah dan warisan budaya kota dalam satu perjalanan yang interaktif dan berkesan.
Program ini diharapkan menjadi terobosan wisata gastronomi sekaligus sarana diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan Jakarta kepada wisatawan domestik maupun mancanegara dengan cara yang lebih dekat, hangat, dan autentik.
Melalui sinergi berbagai pihak, Nyahi diharapkan tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya Betawi, tetapi juga berkembang menjadi sumber inspirasi inovasi kuliner, penggerak ekonomi kreatif, penguat ekosistem UMKM, serta instrumen promosi budaya Jakarta di tingkat nasional maupun internasional.
Lebih dari sekadar tradisi minum teh, Nyahi adalah simbol keramahan, kebersamaan, dan keberagaman yang telah menjadi denyut kehidupan Jakarta dari masa ke masa. Dari secangkir teh sederhana, tersimpan harapan besar untuk memperkuat identitas budaya, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta mengantarkan Jakarta menuju usia ke-500 tahun sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai dan tradisi leluhurnya.(Red/Rls)











