DEMOKRASINEWS, Metro — Pasar Yosomulyo Pelangi atau yang lebih dikenal dengan Pasar Payungi menjadi alternatif wisata kuliner sekaligus ruang rekreasi yang kini menjadi kebanggaan Kota Metro. Pasar yang digelar setiap Minggu pagi ini menawarkan pengalaman berbeda: nuansa pedesaan khas Jawa yang berpadu harmonis dengan kearifan lokal Lampung.
Berada di Jalan Kedondong, RT 21 RW 07, Kelurahan Yosomulyo, Metro Pusat, Payungi menghadirkan suasana layaknya berada di Yogyakarta. Aneka makanan tradisional Jawa yang kini mulai jarang ditemui tersaji di bawah rindangnya pepohonan—mulai dari bambu, alpukat, hingga gang-gang kecil yang ditata sederhana namun penuh daya tarik.
Pasar ini menjadi magnet tersendiri, khususnya bagi para orang tua yang ingin mengenang masa kecil lewat jajanan tempo dulu. Sementara bagi generasi muda, Payungi menawarkan pengalaman wisata belanja dan kuliner yang unik, edukatif, dan instagramable. Tak hanya itu, tersedia pula ruang aktivitas anak seperti menggambar yang menambah nilai ramah keluarga.

Sutikno, warga Punggur, Lampung Tengah, mengaku sengaja datang karena penasaran.
“Suasananya persis seperti di Jawa. Makanan tradisionalnya lengkap, jualannya di bawah-bawah pohon. Ada di bawah bambu, pohon alpukat. Pokoknya serasa banget Jawanya,” ujarnya.
Saat melihat mi pecel di warung Anna Payungi, Sutikno langsung membeli dalam jumlah banyak. Ketika ditanya mengapa tidak membeli tiwul, ia pun berseloroh, “Saya dari kecil sudah kenyang makan tiwul, masa mau makan tiwul lagi,” katanya sambil tertawa.
Pengunjung lain, Budi Nuryanto dan Nenny Anggraini, rela berangkat pagi-pagi dari Bandar Lampung untuk berolahraga sekaligus menikmati kuliner di Payungi.
“Awalnya kami mendengar cerita dari kawan-kawan pensiunan yang tergabung dalam Persatuan Pensiunan Indonesia Kota Metro. Hari ini kami sengaja datang agar bisa melihat langsung nuansanya,” kata Budi.
Nenny pun mengaku sangat terkesan pada kunjungan pertamanya. “Suasananya terasa sekali seperti di Yogyakarta. Jualan di bawah pepohonan, jajanan tradisionalnya menggoda karena sudah jarang ditemui, seperti lento, sawut, dan masih banyak lagi. Harganya juga sangat terjangkau,” ujarnya.
Pasar Yosomulyo Pelangi yang diprakarsai oleh para kawula muda ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya warga Yosomulyo. Selain menjadi destinasi wisata, Payungi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif warga.
Anna, salah satu pedagang mi pecel, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan pasar ini.
“Dengan modal sekitar Rp150 ribu, hasil penjualan bisa mencapai Rp450 ribu hingga Rp500 ribu. Kami sebagai warga sangat terbantu,” katanya. Ia juga melayani pesanan untuk acara kantor maupun pernikahan.
Mantan Wali Kota Metro, Lukman Hakim, menilai keberadaan Payungi sangat membantu perekonomian masyarakat setempat. Ia berharap ciri khas pasar ini terus dipertahankan dan dikembangkan.
“Saya melihat kolaborasi busana Jawa yang dikenakan pedagang dipadukan dengan ciri khas Lampung menjadi daya tarik tersendiri. Kreativitas seperti ini perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.
Pasar Payungi buka setiap Minggu pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Selain menjadi tempat berolahraga, berwisata kuliner, dan bersantai, pasar ini juga menjadi ruang perjumpaan budaya. Tak heran jika pengunjung tak hanya datang dari Kota Metro, tetapi juga dari Lampung Timur, Lampung Tengah, hingga Bandar Lampung.( Red/Ato )











