DEMOKRASINEWS, Tulang Bawang, 9 Oktober 2026 – Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, menggelar halaqah dan Musyawarah Daerah (Musda) untuk memilih kepengurusan baru periode 2026–2031. Dalam forum tersebut, Kyai Mohammad Adibussholih, M.Pd., terpilih sebagai ketua setelah memperoleh 32 suara dari 51 peserta yang menggunakan hak pilihnya.
Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Al-Qudsi, Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Kamis (8/10/2026), dan dihadiri sekitar 80 kyai pengasuh pondok pesantren yang telah terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang.
Halaqah kali ini mengangkat tema “Peran Strategis Kyai Pengasuh Pondok Pesantren dalam Menjaga Harmoni Sosial dan Kebangsaan di Tengah Dinamika Global.” Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi, pertukaran gagasan, sekaligus penyampaian aspirasi pengasuh pesantren terkait penguatan kelembagaan dan kemandirian ekonomi.
Ketua panitia pelaksana, Ustaz Susilo, menyampaikan terima kasih kepada para kyai yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan di tengah kesibukan membina dan mendidik para santri.
Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Bupati Tulang Bawang Drs. Afrizal Indrajaya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik H. Penli Yusli, S.E., M.M., Kepala Dinas Sosial Yusrizal, S.Sos., M.M., Camat Banjar Agung Ali Mat Hasan, serta anggota DPRD Tulang Bawang dari Fraksi PKB Triyatmoko dan Deki Alfiyan.
Dalam sambutan Bupati Tulang Bawang Drs. Qudrotul Ikhwan, M.M., yang dibacakan Afrizal Indrajaya, pemerintah daerah mengapresiasi penyelenggaraan halaqah dan Musda FKPP. Forum tersebut diharapkan menghasilkan pertukaran ide dan gagasan yang melahirkan rekomendasi konkret serta dapat ditindaklanjuti.
Bupati juga mengajak para kyai dan ibu nyai untuk terus berperan aktif membimbing generasi muda, menjaga harmoni sosial, serta memperkuat nilai keagamaan dan kebangsaan di tengah dinamika global. Peran pesantren dinilai strategis dalam mendukung terwujudnya Tulang Bawang sebagai daerah “Udang Manis”.
Dalam sesi diskusi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang, H. Johan Yusuf, S.Ag., M.Pd.I., mengimbau para pengasuh pesantren menunjuk operator untuk melakukan pemutakhiran data melalui Education Management Information System (EMIS), sistem pendataan pendidikan Islam yang dikelola Kementerian Agama RI.
Pendataan tersebut penting agar informasi mengenai pesantren dan santri tercatat secara akurat. EMIS memiliki fungsi pendataan yang dapat dianalogikan dengan Dapodik di lingkungan pendidikan umum.
Sejumlah kyai juga mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang menyediakan alokasi anggaran khusus bagi pesantren yang telah terdaftar di Kementerian Agama. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kebutuhan operasional tanpa membebani pesantren dengan pengajuan proposal setiap kali membutuhkan bantuan.
Selain itu, muncul gagasan agar bantuan pemerintah dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif pesantren. Dengan demikian, pesantren diharapkan semakin mandiri dan mampu menopang kebutuhan operasionalnya secara berkelanjutan.
Anggota DPRD Tulang Bawang dari Fraksi PKB yang juga Ketua GP Ansor Tulang Bawang, Deki Alfiyan, menyoroti masih minimnya pengisian data EMIS oleh sejumlah pesantren. Ia mengusulkan pelatihan khusus bagi operator pesantren, dengan PKB Tulang Bawang menyatakan kesiapan membantu memfasilitasi tempat dan pendanaan kegiatan tersebut.
Deki juga menyatakan akan membawa aspirasi para kyai kepada pemerintah daerah terkait usulan anggaran bantuan operasional pesantren, dengan besaran minimal Rp20 juta per pesantren setiap tahun.
Menurutnya, pesantren telah memberikan kontribusi besar dalam membina generasi muda, khususnya melalui pendidikan agama dan pembentukan karakter.
Dari empat calon ketua yang diusulkan, Kyai Mohammad Adibussholih, M.Pd., yang akrab disapa Gus Adzib, memperoleh suara terbanyak dengan 32 suara dari total 51 pemilih.
Kepada Demokrasinews.co.id, Gus Adzib menyampaikan bahwa jabatan Ketua FKPP merupakan amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Saya akan mengajak semua pihak untuk berkolaborasi membawa pondok pesantren lebih maju dan memberikan lebih banyak manfaat bagi agama dan bangsa, termasuk mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi para kyai dan ibu nyai dalam mengasuh santri,” ujarnya.
Ia juga berkomitmen melanjutkan program-program positif kepengurusan sebelumnya serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak demi kemajuan pesantren di Kabupaten Tulang Bawang.
Gus Adzib turut mengajak insan pers untuk berperan aktif menyebarluaskan informasi mengenai kegiatan dan kontribusi pondok pesantren kepada masyarakat.
Melalui kepengurusan baru FKPP periode 2026–2031, diharapkan terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pesantren, pemerintah, legislatif, dan media. Sinergi tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat pendidikan keagamaan, kemandirian pesantren, serta pembinaan generasi muda yang berakhlak dan berwawasan kebangsaan.(Red/Sendi Gunawan)














