Di dunia yang penuh kehidupan ini, setiap makhluk hidup pada dasarnya membutuhkan hubungan sosial. Tidak ada yang benar-benar mampu hidup sendiri. Manusia membutuhkan manusia lain, alam membutuhkan keseimbangan, dan perkembangan kehidupan memerlukan sarana yang mampu menghubungkan semuanya dalam satu kesatuan yang harmonis.
Jika kita memperhatikan lingkungan sekitar, terdapat banyak pelajaran sederhana yang menyimpan makna mendalam. Salah satunya dapat dilihat dari keberadaan tiang listrik dan tiang telekomunikasi yang berdiri tegak di sepanjang jalan, dari kota hingga pelosok desa. Tiang listrik menjadi penopang aliran energi yang menerangi rumah-rumah, sekolah, tempat ibadah, serta berbagai aktivitas masyarakat. Berkat aliran listrik, kehidupan dapat berjalan lebih produktif, baik siang maupun malam.
Sementara itu, tiang telekomunikasi memiliki peran yang tidak kalah penting. Jika dahulu hanya digunakan sebagai penghantar sambungan telepon, kini fungsinya berkembang menjadi jalur internet, televisi kabel, dan berbagai layanan komunikasi digital lainnya. Bahkan, satu jalur yang dahulu hanya terdiri dari satu tiang kini dapat berkembang menjadi beberapa jaringan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia terus bergerak mengikuti zaman. Teknologi yang dahulu identik dengan wilayah perkotaan kini telah menjangkau desa-desa terpencil. Kehadirannya membuka akses pendidikan, mempercepat pertukaran informasi, mendukung kegiatan ekonomi, serta memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk terhubung dengan dunia luar.
Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari kita juga dapat melihat bagaimana alam dan teknologi berjalan berdampingan. Tidak jarang jaringan telekomunikasi berdiri di dekat pepohonan yang rindang. Namun, keduanya tetap membutuhkan batas dan keseimbangan. Pohon yang tumbuh terlalu dekat dengan jaringan listrik dapat mengganggu aliran energi dan berpotensi menimbulkan risiko. Dari situ kita belajar bahwa harmoni bukan berarti menyatukan segala sesuatu tanpa aturan, melainkan menciptakan keseimbangan yang saling menghormati fungsi dan peran masing-masing.
Dalam cerita dan pesan kehidupan yang sering disampaikan Cak Tholib, manusia diingatkan untuk terus memperluas jangkauan pemikiran dan memperkuat “frekuensi” kehidupan agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Frekuensi yang dimaksud bukan hanya kemampuan memahami teknologi, tetapi juga kesiapan belajar, beradaptasi, dan membuka diri terhadap perubahan yang membawa manfaat.
Di era modern, melek teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Teknologi telah hadir dalam hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, perdagangan, pekerjaan, hingga hubungan sosial. Namun demikian, kemajuan teknologi harus tetap diimbangi dengan kebijaksanaan, etika, dan kepedulian terhadap lingkungan agar tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, kehidupan manusia dapat diibaratkan seperti pohon yang menjulang tinggi. Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kuat pula akar yang harus menancap ke dalam bumi. Begitu pula manusia modern. Setinggi apa pun kemajuan teknologi yang dicapai, manusia tetap membutuhkan akar yang kokoh berupa nilai kemanusiaan, kebersamaan, gotong royong, dan keharmonisan dengan alam.
Teknologi dan alam bukanlah dua kekuatan yang saling menyingkirkan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih maju, seimbang, dan berkelanjutan. Sebab kemajuan sejati bukan hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga hubungan baik dengan sesama dan dengan alam yang menjadi sumber kehidupannya.( Penulis Cak Tholib Mantan Jurnalis Komisi Informasi Lampung )











