DEMOKRASINEWS, Madinah, 3 Mei 2026 – Ibadah tetap menjadi tujuan utama calon jemaah haji (calhaj). Namun di sela-sela rangkaian ibadah, menambah wawasan spiritual dan sejarah Islam menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari perjalanan suci di Kota Madinah.
Usai melaksanakan salat wajib berjamaah di Masjid Nabawi, para jemaah biasanya mengisi waktu dengan mengunjungi berbagai situs bersejarah di sekitarnya. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kedekatan emosional dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabat.
Salah satu amalan yang banyak diupayakan jemaah adalah melaksanakan Salat Arbain, yakni salat fardhu berjamaah sebanyak 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi tanpa terputus, yang umumnya dilakukan selama 8–9 hari. Ibadah ini diyakini memiliki keutamaan besar, di antaranya sebagai bentuk harapan terbebas dari siksa dan kemunafikan.

Meski tidak menjadi program resmi bagi jemaah Lampung, khususnya Kloter JKG 7, semangat untuk memperbanyak ibadah tetap tinggi. Para jemaah tetap melaksanakan salat wajib dan berbagai ibadah sunah. Bila waktu dan kondisi memungkinkan, sebagian calhaj berusaha meraih kesempatan melaksanakan Salat Arbain secara mandiri.
Memasuki hari kedua di Madinah, jemaah umumnya mulai mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berada di sekitar Masjid Nabawi. Didampingi pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), mereka diajak menelusuri jejak sejarah Islam secara langsung.
Salah satu lokasi yang paling diminati adalah Raudhah, area di dalam Masjid Nabawi yang terletak antara makam Nabi Muhammad SAW dan mimbar. Tempat ini dikenal sebagai “taman surga” dan menjadi lokasi favorit untuk berdoa.

Tak jauh dari masjid, terdapat Jannatul Baqi, kompleks pemakaman lebih dari 10.000 sahabat Nabi, termasuk keluarga Rasulullah. Setiap selesai salat fardhu, salat jenazah kerap dilaksanakan di Masjid Nabawi, diikuti oleh puluhan hingga ratusan ribu jemaah. Banyak yang memandang hal ini sebagai keutamaan tersendiri.
Jemaah juga mengunjungi Masjid Ghamamah, yang dikenal sebagai tempat Rasulullah pernah melaksanakan salat istisqa (memohon hujan). Selain itu, ada Saqifah Bani Sa’idah, lokasi bersejarah tempat musyawarah para sahabat menentukan pemimpin umat setelah wafatnya Rasulullah.
Tak ketinggalan, masjid-masjid sahabat seperti Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Masjid Ali bin Abi Thalib juga menjadi bagian dari rute kunjungan religi yang sarat makna.
Menariknya, seluruh lokasi tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya yang berdekatan. Kawasan sekitar Masjid Ghamamah bahkan dikenal dengan banyaknya burung merpati yang menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaah.
Sugeng, salah satu calhaj asal Pekanbaru yang datang bersama istrinya, mengaku menikmati pengalaman tersebut. “Kami tidak perlu mengeluarkan biaya untuk wisata religi. Cukup berjalan kaki, dari satu tempat ke tempat lain sangat dekat. Selain menambah wawasan, ini juga menjadi cara menghilangkan kejenuhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, bermain dan memberi makan burung merpati menjadi pengalaman yang berkesan. Sugeng juga menyarankan agar kunjungan dilakukan selepas salat Subuh agar cuaca masih sejuk dan lebih nyaman.
Selain wisata religi, jemaah juga memanfaatkan waktu untuk berbelanja oleh-oleh. Salah satu titik yang cukup ramai adalah area sekitar pintu 319 Masjid Nabawi, yang dikenal memiliki banyak toko dengan harga terjangkau. Di kawasan ini pula terdapat jajanan unik seperti es krim yang disajikan dengan taburan bunga, yang belakangan menjadi favorit jemaah.
Perjalanan di Madinah menjadi bukti bahwa ibadah haji bukan hanya soal ritual, tetapi juga proses pembelajaran dan refleksi. Dari setiap langkah kaki yang menelusuri sejarah, jemaah tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga memperluas pemahaman tentang nilai-nilai Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi.( Red/ Laporan Agustobationo dari Madinah )











