DEMOKRASINEWS, Madinah, 2 Mei 2026 – Di antara jutaan langkah yang menuju Tanah Suci, setiap jemaah membawa kisahnya sendiri, tentang penantian, pengorbanan, dan harapan yang tak pernah padam. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin secara spiritual yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.
Di pelataran Masjid Nabawi, seorang jemaah asal Lampung Timur Leni Apriyono (45), tampak duduk bersandar sambil menggenggam tasbih. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan cerita panjang. Ia mengaku telah menabung lebih dari 20 tahun demi bisa menjejakkan kaki di Madinah.
“Saya hanya seorang pegawai rendahan dan mengisi waktu luang untuk bertani. Tapi saya percaya, kalau niat itu dijaga, Allah akan bukakan jalan,” tuturnya pelan.
Perjalanan saya bukanlah hal yang mudah. Saya harus menahan keinginan membeli banyak hal demi menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit. Bahkan, saat terima gaji bulanan harus berbagi dengan kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak – anak, begitu juga jika hasil panen menurun, saya tetap berusaha konsisten harus menabung. Bagi diri saya, ibadah haji adalah panggilan jiwa yang tidak bisa ditunda selagi kita masih diberikan nikmat Allah SWT.
Setibanya di Tanah Suci, rasa lelah seakan sirna. Saat pertama kali memasuki Masjid Nabawi, saya tak kuasa menahan air mata. “Rasanya seperti mimpi. Saya hanya bisa bersyukur.
Suasana di masjid begitu hidup. Jemaah dari berbagai negara berbaur dalam satu tujuan: beribadah. Lantunan doa, bacaan Al-Qur’an, dan dzikir menjadi harmoni yang menenangkan hati. Meski harus berbagi ruang dengan ribuan orang lain, kekhusyukan tetap terasa.
Bagi banyak jemaah, kesempatan beribadah di Raudhah menjadi momen yang paling dinanti. Area yang diyakini sebagai taman surga ini selalu dipenuhi jemaah yang ingin memanjatkan doa terbaik mereka.
Saya pun tak melewatkan kesempatan tersebut. Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya ia bisa menunaikan salat di Raudhah. “Saya berdoa untuk keluarga, anak-anak, dan semua yang belum bisa ke sini.
Perjalanan haji juga mengajarkan nilai kesabaran dan keikhlasan. Antrean panjang, cuaca panas, serta kondisi fisik yang menantang menjadi bagian dari ujian. Namun justru di situlah makna ibadah semakin terasa.
Selain di Madinah, puncak ibadah haji berlangsung di Masjidil Haram, tempat Ka’bah berdiri. Di sana, jutaan jemaah melakukan tawaf dan rangkaian ibadah lainnya. Setiap putaran mengelilingi Ka’bah menjadi simbol ketundukan dan cinta kepada Sang Pencipta.
Bagi saya, haji bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perubahan diri. Saya berharap sepulang dari Tanah Suci, akan menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa manfaat bagi lingkungan.
“Kita datang ke sini bukan hanya untuk beribadah, tapi juga untuk belajar menjadi manusia yang lebih sabar dan bersyukur.”
Kisah Leni Apriyono ini adalah satu dari sekian banyak cerita inspiratif jemaah haji. Di balik keramaian dan hiruk pikuk, tersimpan pelajaran tentang keteguhan hati, kekuatan doa, dan keyakinan bahwa setiap langkah menuju kebaikan akan selalu menemukan jalannya.
Ibadah haji mengajarkan bahwa dalam hidup, bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa tulus kita melangkah.( Red/Laporan Agustobationo dari Madinah)











