Oleh: Sendi Gunawan
Gerakan jari di layar ponsel, ditemani secangkir kopi pagi. Dari sanalah seorang wartawan atau jurnalis menulis, membaca, mencari informasi, menghubungkan fakta, lalu menyajikannya kepada publik.
Wartawan. Oh, wartawan.
Sebuah profesi yang kini kembali saya tekuni, di sela-sela pekerjaan sebagai seorang petani. Profesi ini sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Pernah cukup lama saya jalani, kemudian saya tinggalkan, dan kini kembali saya tekuni dengan segala dinamika dan tantangannya.
Bagi saya, wartawan adalah profesi yang mulia. Namun, di balik kemuliaan itu terdapat tanggung jawab yang besar. Dari gerakan jari seorang wartawan di layar ponsel, goresan pena, hingga bidikan kamera, sebuah karya jurnalistik dapat memberikan pengaruh terhadap cara masyarakat memahami sebuah peristiwa.
Sebuah berita dapat mengangkat kisah, prestasi, dan perjuangan seseorang. Sebaliknya, berita yang tidak akurat atau tidak berimbang juga berpotensi merugikan nama baik dan reputasi seseorang.
Karena itu, wartawan dituntut menyajikan informasi berdasarkan fakta. Di tengah derasnya arus informasi dan semakin sulitnya masyarakat membedakan antara berita faktual dan informasi palsu, karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi semakin penting.
Namun, memperoleh sebuah berita yang benar tidak selalu mudah. Ada tenaga, waktu, pikiran, bahkan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan peliputan, mencari data, melakukan verifikasi, serta memastikan informasi yang disampaikan kepada publik memiliki dasar yang jelas.
Ironisnya, tanggung jawab tersebut tidak selalu berjalan beriringan dengan kepastian penghasilan. Tidak semua wartawan memiliki pendapatan yang tetap dan memadai untuk menopang kebutuhan dirinya maupun keluarganya.
Di sisi lain, kehadiran wartawan terkadang juga tidak selalu disambut baik.
Di tengah masyarakat maupun lingkungan pemerintahan, ada pihak-pihak yang merasa terusik ketika wartawan datang. Ada pula yang memilih menghindar karena memiliki pengalaman buruk dengan oknum yang mengatasnamakan wartawan.
Pengalaman-pengalaman tersebut, pada akhirnya, dapat membentuk paradigma negatif terhadap profesi jurnalistik secara keseluruhan. Bahkan, tidak jarang kata “wartawan” justru menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian orang.
Inilah salah satu kegelisahan seorang wartawan.
Di satu sisi, kehadiran wartawan dibutuhkan sebagai bagian dari kontrol sosial dan penyampai informasi kepada masyarakat. Di sisi lain, profesi ini terkadang dipandang dengan rasa curiga hanya karena ulah sebagian oknum.
Namun, saya percaya bahwa tidak ada yang salah dengan sebuah profesi. Apa pun profesinya, semuanya kembali kepada orang yang menjalankannya dan bagaimana profesi tersebut digunakan.
Jika boleh membuat perumpamaan, saya melihat profesi wartawan seperti dua jenis hewan: lebah madu dan lalat.
Lebah hadir membawa manfaat. Ia menghasilkan madu yang dapat dimanfaatkan manusia. Namun, lebah juga memiliki sengatan sebagai mekanisme pertahanan. Karena itu, orang akan berpikir sebelum mengusiknya.
Sementara lalat identik dengan lingkungan yang kurang bersih dan dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Kehadirannya pun cenderung dihindari.
Perumpamaan itu bukan untuk menyamakan manusia dengan hewan, melainkan sebagai refleksi sederhana tentang bagaimana sebuah profesi seharusnya dijalankan.
Seorang wartawan semestinya berusaha menjadi seperti lebah: kehadirannya memberikan manfaat melalui informasi yang benar, karya yang mencerahkan, dan keberanian menyampaikan fakta. Ketegasan dalam menjalankan tugas bukan berarti mencari musuh, apalagi menggunakan profesi untuk kepentingan pribadi.
Wartawan juga memiliki “sengatan” berupa kritik dan kontrol sosial. Namun, sengatan itu harus digunakan pada tempatnya, berdasarkan fakta, kepentingan publik, dan tanggung jawab jurnalistik.
Sebab, kebebasan pers bukanlah kebebasan tanpa batas. Kebebasan itu selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada diri masing-masing.
Jika kita memilih menjadi wartawan, jurnalis, atau menjalani profesi apa pun, hendak dibawa ke mana profesi tersebut?
Apakah kehadiran kita akan dinanti karena memberikan manfaat, atau justru dihindari karena meninggalkan persoalan?
Saya memilih menjadi “lebah”.
Bukan karena ingin ditakuti oleh sengatan, tetapi karena ingin dikenang melalui madu yang dihasilkan.
Salam kopi pagi dari seorang wartawan. ( Sendi Gunawan )














