DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 22 Agustus 2026 — Semangat kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) kembali menggeliat di Kabupaten Lampung Timur. Sebanyak 102 warga Nahdliyin dari empat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) mengikuti Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Zona 3, yang dipusatkan di MI Ma’arif Miftahul Huda, Desa Labuhan Ratu IV, Kecamatan Labuhan Ratu, dimulai hari Jumat 21 Agustus 2026 hingga Minggu 23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan PD-PKPNU angkatan ke-89 PCNU Kabupaten Lampung Timur. Peserta berasal dari MWCNU Way Jepara, MWCNU Labuhan Ratu, MWCNU Sukadana, dan MWCNU Bumi Agung. Dari total 102 peserta, sebanyak 55 orang merupakan laki-laki dan 47 lainnya perempuan.
Sejak kegiatan dibuka, suasana kaderisasi terasa kuat. Para peserta hadir bukan sekadar untuk mengikuti agenda organisasi, melainkan memasuki sebuah proses pembelajaran yang menuntut kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, sekaligus kesungguhan memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan NU.

Bagi sebagian peserta, tiga hari ke depan menjadi kesempatan untuk mengenal NU lebih jauh. Bukan hanya tentang struktur organisasi atau aktivitas kelembagaan, tetapi juga mengenai nilai keagamaan, wawasan kebangsaan, sejarah perjuangan, serta tanggung jawab sosial yang melekat pada seorang kader.
Ketua PCNU Kabupaten Lampung Timur, K.H. Dardiri Ahmad, yang akrab disapa Gur Dar, menegaskan bahwa memahami organisasi merupakan bagian penting dari tanggung jawab setiap warga Nahdliyin.
Menurutnya, menjadi bagian dari NU tidak cukup hanya dengan menyandang identitas sebagai warga Nahdliyin. Ada nilai, sejarah, tradisi, dan tanggung jawab yang perlu dipahami agar keberadaan kader benar-benar memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat.
“Kewajiban sebagai warga Nahdlatul Ulama adalah memahami organisasi ini. Selama tiga hari ke depan, peserta akan ditempa dengan materi yang fokus pada dua hal utama, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar K.H. Dardiri Ahmad saat membuka kegiatan, Jumat (21/8/2026).
Pernyataan tersebut menjadi pesan utama dalam pembukaan kaderisasi. Pendidikan tidak diarahkan semata-mata untuk menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan sikap kader agar mampu menempatkan nilai keagamaan dan kebangsaan secara seimbang.
Aswaja menjadi salah satu pijakan penting yang akan dipelajari peserta. Sementara komitmen terhadap NKRI menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan kader yang diharapkan mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, keberadaan kader dengan pemahaman keagamaan dan wawasan kebangsaan dinilai semakin penting. Kader tidak hanya dituntut mampu memahami nilai-nilai organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
Kaderisasi karena itu menjadi ruang untuk mempersiapkan generasi yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan. Mereka diharapkan dapat hadir di tengah masyarakat dengan sikap yang teduh, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di lingkungannya.
Gur Dar juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar bangga mendapatkan kesempatan mengikuti PD-PKPNU. Menurutnya, tidak semua warga Nahdliyin memiliki kesempatan dan kelapangan untuk mengikuti pendidikan kaderisasi yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental tersebut.
Ia pun meminta peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh hingga selesai.
“Kami atas nama pengurus cabang mengucapkan selamat atas terlaksananya kegiatan ini di Kecamatan Labuhan Ratu. Saya mendoakan agar seluruh peserta mampu menyelesaikan pendidikan selama tiga hari dengan hasil yang maksimal,” tambahnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar para peserta tidak melihat kaderisasi sebagai rutinitas organisasi. Tiga hari pendidikan diharapkan menjadi pengalaman yang membekas dan memberikan bekal untuk menjalankan peran masing-masing setelah kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan ini juga mempertemukan kader dari berbagai wilayah. Mereka datang dari latar belakang dan lingkungan yang berbeda, namun berada dalam satu ruang pembelajaran dan tujuan yang sama.
Di dalam proses semacam inilah kaderisasi memiliki dimensi human interest yang kuat. Para peserta tidak hanya belajar dari instruktur, tetapi juga membangun persaudaraan, bertukar pengalaman, dan mengenal sesama warga Nahdliyin dari wilayah lain.
Perjumpaan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembentukan kader. Sebab, organisasi tidak hanya dibangun oleh gagasan, tetapi juga oleh hubungan antarmanusia, solidaritas, kepedulian, dan kemampuan bekerja bersama.
Dengan bertemunya 102 peserta dari empat wilayah MWCNU, kaderisasi menjadi ruang untuk memperkuat jejaring sosial di tingkat akar rumput. Dari sana, lahir kemungkinan kerja sama yang lebih luas dalam berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, maupun kemasyarakatan.
Kegiatan PD-PKPNU Zona 3 tersebut turut dihadiri jajaran PCNU Kabupaten Lampung Timur. Di antaranya Sekretaris PCNU Abdul Latif Hasan, Wakil Ketua PCNU Mustakim, serta Instruktur PD-PKPNU Provinsi Lampung Imam Makruf,serta pengurus Lakpesdam PCNU Lampung Timur.
Hadir pula unsur pemerintahan Kecamatan Labuhan Ratu yang diwakili Sekretaris Kecamatan (Sekcam), serta perwakilan MWCNU Way Jepara, MWCNU Labuhan Ratu, MWCNU Bumi Agung, dan MWCNU Sukadana.
Kehadiran unsur pemerintahan dan jajaran pengurus NU tersebut menunjukkan bahwa proses kaderisasi memiliki arti penting dalam membangun sumber daya manusia organisasi sekaligus memperkuat kontribusi NU di tengah masyarakat.
Setelah memberikan sambutan dan arahan, K.H. Dardiri Ahmad secara resmi menyerahkan 102 peserta kepada tim instruktur wilayah. Penyerahan tersebut menjadi penanda dimulainya proses pendidikan dan pelatihan selama tiga hari.
Sejak saat itu, tanggung jawab proses pembelajaran beralih kepada tim instruktur. Para peserta akan mengikuti rangkaian materi dan pembinaan yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai ke-NU-an, Aswaja, kepemimpinan, serta komitmen kebangsaan.
Namun, keberhasilan kaderisasi pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak materi yang mampu diingat peserta selama pendidikan berlangsung.
Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana nilai-nilai yang diperoleh dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang kader diharapkan tidak berhenti sebagai peserta pendidikan setelah kegiatan berakhir. Ia harus mampu menjadi penggerak di lingkungan masing-masing, menghidupkan kegiatan organisasi, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta ikut menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Di sinilah makna penting PD-PKPNU sebagai proses kaderisasi. Pendidikan menjadi pintu masuk, sementara pengabdian menjadi perjalanan berikutnya.
Angkatan ke-89 di Lampung Timur pun bukan sekadar catatan administratif dalam perjalanan organisasi. Di balik angka tersebut terdapat 102 individu yang sedang dipersiapkan untuk mengambil peran lebih besar.
Ada harapan agar mereka kelak menjadi kader yang memiliki fondasi keagamaan yang kokoh, memahami tradisi dan nilai NU, mencintai tanah air, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Kaderisasi juga menjadi investasi jangka panjang organisasi. Ketika sebuah organisasi mampu menyiapkan kader secara berkelanjutan, keberlangsungan perjuangan tidak hanya bergantung pada generasi yang sedang memegang amanah, tetapi memiliki penerus yang telah dipersiapkan sejak dini.
Dari ruang pendidikan di Desa Labuhan Ratu 4 itu, proses tersebut kembali dimulai.
Sebanyak 102 peserta memasuki pendidikan dengan latar belakang masing-masing. Mereka datang membawa pengalaman, harapan, dan cerita yang berbeda. Namun selama tiga hari, mereka ditempa dalam satu proses untuk menemukan pemahaman yang sama tentang nilai perjuangan dan tanggung jawab sebagai warga Nahdliyin.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika seluruh peserta mampu menyelesaikan rangkaian kegiatan dengan baik. Lebih jauh, keberhasilan itu akan terlihat ketika setelah kembali ke lingkungannya masing-masing, mereka mampu membawa semangat baru—menjadi kader yang lebih memahami organisasi, lebih peduli kepada masyarakat, serta lebih siap mengambil bagian dalam menjaga persatuan dan kehidupan kebangsaan.
PD-PKPNU angkatan ke-89 pun menjadi bagian dari perjalanan panjang kaderisasi NU di Lampung Timur. Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa nilai keagamaan, semangat kebangsaan, dan tradisi pengabdian terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, kaderisasi bukan sekadar mencetak anggota organisasi. Ia adalah proses menempa manusia agar memiliki pengetahuan, karakter, kepedulian, dan keberanian untuk berbuat.
Dari 102 peserta yang mengikuti pendidikan hari ini, diharapkan tumbuh kader-kader yang kelak hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai nama dalam struktur organisasi, tetapi sebagai pribadi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi umat, masyarakat, dan bangsa.( Red/Supriyono)











