DEMOKRASINEWS, Lampung Timur, 4 Mei 2026 – Pagi itu, suasana di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sukadana terasa berbeda. Bukan hanya rutinitas harian warga binaan yang berjalan, tetapi juga hadirnya kehangatan dari sebuah silaturahmi yang membawa harapan baru.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Timur datang berkunjung, dipimpin langsung oleh Ketua PWI, Muklis. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kepala Rutan, Muhammad Jawab Cirry, bersama jajaran. Senyum dan sapaan akrab mengawali pertemuan yang sederhana, namun sarat makna, Senin (4/5/2026).
Di balik tembok tinggi dan pintu besi, percakapan yang terjalin bukan sekadar formalitas. Ada semangat untuk saling memahami peran antara mereka yang bekerja menyampaikan informasi dan mereka yang berupaya membina serta mengembalikan harapan bagi warga binaan.
“Silaturahmi ini bukan hanya tentang hubungan kelembagaan, tetapi tentang membangun jembatan kepercayaan,” kata Muklis. Ia menekankan bahwa pers memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan cerita secara utuh, bukan hanya tentang kesalahan, tetapi juga tentang proses pembinaan dan perubahan.
Baginya, setiap warga binaan memiliki kisah yang layak didengar, dan setiap upaya pembinaan di dalam rutan adalah bagian dari harapan yang terus diperjuangkan.

Sementara itu, Kepala Rutan Sukadana, Muhammad Jawab Cirry, menyambut kehadiran insan pers dengan penuh keterbukaan. Ia percaya, peran media sangat penting untuk menghadirkan sudut pandang yang lebih manusiawi kepada masyarakat.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di sini bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan memulai kembali,” ujarnya.
Di tengah perbincangan hangat, terselip harapan agar sinergi ini mampu membuka ruang informasi yang lebih jujur dan berimbang. Bahwa di balik jeruji, ada proses panjang pembinaan yang sering luput dari perhatian publik.
Kegiatan diakhiri dengan diskusi ringan dan foto bersama. Namun lebih dari itu, pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam, bahwa kolaborasi kecil dapat menjadi langkah besar dalam menghadirkan cerita-cerita yang lebih manusiawi.
Di sudut Lampung Timur, hari itu bukan sekadar kunjungan. Ia menjadi pengingat bahwa komunikasi yang tulus mampu menghadirkan empati, dan dari empati, lahir harapan baru.( Red/Prie/Rls)











