DEMOKRASINEWS, Kalimantan Timur – Dunia politik Kalimantan Timur kembali bergolak setelah beredarnya foto pertemuan antara Calon Gubernur Isran Noor dan politisi senior Partai Gerindra, Makmur HAPK, di kediaman Makmur di Berau.
Pertemuan ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan internal Partai Gerindra, yang saat ini mendukung pasangan calon gubernur Rudy Mas’ud dan Seno Aji dalam Pilkada 2024.
Seno Aji, Sekretaris DPD Partai Gerindra Kaltim dan juga calon Wakil Gubernur, menyatakan bahwa partainya akan memberikan sanksi tegas kepada kader yang mendukung pasangan calon di luar garis resmi partai.
Ini menjadi peringatan keras yang ditujukan kepada Makmur HAPK, mengingat posisinya yang masih aktif sebagai anggota Partai Gerindra. “Kami tidak akan mentolerir dukungan kepada calon lain,” tegas Seno Aji.
Menanggapi pertemuan tersebut, Makmur HAPK, yang juga merupakan mantan Ketua DPRD Kaltim, menjelaskan bahwa kunjungan Isran Noor ke rumahnya hanyalah bentuk silaturahmi biasa.
“Tidak ada pembicaraan yang gimana-gimana, cuma makan lalu pulang,” ungkapnya dengan santai. Ia menjelaskan bahwa pada saat itu ia mengadakan acara selamatan untuk cucunya, dan kunjungan tokoh politik semacam ini sudah sering terjadi dalam karier politiknya.
Makmur menambahkan, “Sejak zaman Pak Achmad Amins, Pak Awang Faroek, hingga Pak Isran, mereka sering datang mungkin karena menghormati saya, bukan karena saya tokoh.” Ia juga menyoroti bahwa hingga kini, calon gubernur Rudy Mas’ud belum pernah berkunjung ke rumahnya meskipun sudah beberapa kali datang ke Berau. “Terus terang saja, beberapa kali dia (Rudy) ke Berau tetapi tidak pernah ketemu,” jelasnya.
Makmur menyayangkan bahwa foto pertemuannya dengan Isran Noor dijadikan bahan spekulasi oleh beberapa pihak. Ia menegaskan bahwa ia memahami batasan antara silaturahmi dan kampanye, dan tidak ada maksud untuk melanggar aturan partai. “Saya ini orang tua, puluhan tahun berpolitik, bukan bodoh-bodoh juga. Saya tahu mana yang termasuk kampanye dan mana yang bukan,” tegasnya.
Menanggapi ancaman sanksi dari Seno Aji, Makmur tidak gentar. “Silakan saja, saya tidak takut. Yang jelas saya tidak melakukan kesalahan,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan Makmur terhadap posisinya dan ketidakkhawatirannya terhadap konsekuensi dari pertemuan tersebut.
Makmur juga berbicara tentang kedekatannya dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. “Saya bergabung dengan Partai Gerindra karena langsung diajak oleh Pak Prabowo. Saya itu beberapa kali diundang bertemu beliau. Bahkan, beliau pernah memberi saya oleh-oleh,” ungkapnya, menekankan hubungan personalnya dengan pemimpin partai tersebut.
Ia juga memberikan pesan kepada para politisi, menyatakan bahwa berpolitik seharusnya tidak disertai dengan sifat cengeng. “Berpolitik itu jangan cengeng, jangan menyalahkan orang lain jika tidak berhasil. Menjadi calon pemimpin harus percaya pada diri sendiri,” tambahnya.
Makmur HAPK adalah sosok yang memiliki pengaruh besar di Berau, di mana ia pernah memimpin kabupaten tersebut selama dua periode dan kini terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim pada Pemilu Legislatif 2024. Namun, hubungan Makmur dengan keluarga Mas’ud, yang saat ini mendominasi politik Kaltim, memiliki sejarah tersendiri. Saat dirinya masih menjadi kader Partai Golkar dan menjabat sebagai Ketua DPRD Kaltim, posisinya tiba-tiba digantikan oleh Hasanudin Mas’ud, kakak Rudy Mas’ud, yang kini menjadi Ketua DPD Golkar Kaltim.
Hubungan politik yang kompleks antara Makmur HAPK dan keluarga Mas’ud mencerminkan dinamika kekuasaan yang tidak hanya terjadi di tingkat partai, tetapi juga di pemerintahan daerah. Dengan situasi politik yang memanas menjelang Pilkada Kaltim 2024, pertemuan-pertemuan seperti ini akan terus menjadi sorotan publik dan menambah intensitas persaingan di antara para calon pemimpin. (Red/Polimeter Indonesia)











