DEMOKRASINEWS, Lampung Utara, 21 Mei 2026 – Kabar duka datang dari sebuah rumah sederhana di Kelurahan Cempedak, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Tangis keluarga pecah setelah telepon yang diterima pada Rabu siang, 20 Mei 2026, mengabarkan bahwa Prajurit Satu Marinir (Pratu Mar) Zalendra Ferdika telah meninggal dunia saat mengikuti pendidikan pasukan elite Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) di kawasan Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan.
Di mata keluarga, Zalendra bukan sekadar prajurit muda TNI Angkatan Laut. Ia adalah anak yang tumbuh dengan mimpi besar dan tekad kuat untuk mengabdi kepada negara. Sebelum berangkat mengikuti pendidikan Denjaka pada Januari 2026, ia sempat berpamitan kepada kedua orang tuanya.
“Dia sempat izin kepada keluarga untuk mengikuti pendidikan Denjaka, dan kami mendukung,” ujar sang ayah, Perly Haryadi, dengan suara lirih menahan duka.
Selama hampir lima bulan menjalani pendidikan, Zalendra diketahui berada di tahap akhir pelatihan menuju pembentukan salah satu pasukan khusus paling elite di lingkungan TNI Angkatan Laut. Sebelumnya, almarhum berdinas di Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) 2 Marinir Surabaya.
Namun harapan itu mendadak runtuh ketika kabar meninggalnya Zalendra datang secara tiba-tiba melalui sambungan telepon dari kerabat dekat keluarga.
“Kami dikabari melalui telepon bahwa anak kami sudah tidak ada,” kata Perly.
Beberapa hari sebelum kabar duka itu tiba, keluarga sempat menerima informasi bahwa kondisi fisik Zalendra menurun selama menjalani pendidikan. Meski demikian, hingga kini keluarga mengaku belum menerima penjelasan rinci mengenai penyebab meninggalnya prajurit muda tersebut.
“Sempat ada kabar kondisi kesehatannya menurun dan kurang fit, tetapi penyebab pastinya kami belum mengetahui,” ujarnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Zalendra dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan menghormati orang tua. Tetangga mengenangnya sebagai pemuda ramah yang tak pernah sungkan menyapa warga sekitar.
“Anaknya baik, ramah dengan keluarga dan tetangga. Kami sangat kehilangan,” tutur Perly.
Rencananya, jenazah Zalendra akan dimakamkan secara militer di kampung halamannya di Lampung Utara. Bagi keluarga, prosesi itu bukan sekadar penghormatan terakhir bagi seorang prajurit, melainkan juga perpisahan berat terhadap anak yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga.
Duka keluarga Zalendra ternyata bukan satu-satunya dalam pendidikan Denjaka tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya empat siswa dilaporkan meninggal dunia selama masa pendidikan. Selain Zalendra, terdapat nama Praka Marinir Moh. Dani Fauzan asal Situbondo, Jawa Timur; Kelasi Mes (KLS Mes) Markus Seprianus Sakan asal Kupang, Nusa Tenggara Timur; serta Praka Marinir Zaenal Arifin asal Kediri, Jawa Timur.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut mengenai kronologi maupun penyebab meninggalnya para siswa pendidikan tersebut.
Denjaka sendiri dikenal sebagai satuan elite TNI Angkatan Laut dengan kemampuan operasi khusus maritim, antiteror, hingga pembebasan sandera berisiko tinggi. Pendidikan pasukan ini memiliki standar fisik dan mental yang sangat ketat karena dibentuk dari unsur pasukan khusus Komando Pasukan Katak dan Yontaifib Marinir.
Kini, di tengah suasana duka yang menyelimuti rumah keluarga di Kotabumi, satu pertanyaan masih terus menggantung: apa sebenarnya yang terjadi di balik pendidikan berat yang dijalani para prajurit muda tersebut.
Bagi keluarga Zalendra, jawaban itu menjadi hal yang masih mereka tunggu, di tengah kehilangan yang belum sepenuhnya mereka percaya telah terjadi.( Red/JM )











